Kisah Umar bin Khattab Menjadi Khalifah Kedua Umat Islam

Proses pengangkatan Umar bin Khattab sebagai Khalifah dimulai dari sakitnya Abu Bakar As-Siddiq. Selama sakitnya Abu Bakar terus berpikir untuk mencari pengganti dirinya, maka Umar adalah satu-satunya pilihan yang dirasa tepat untuk menduduki posisi Khalifah setelah ia wafat.

Abu Bakar mengundang tokoh-tokoh terkemuka dalam pemerintahannya dari golongan Anshar dan Muhajirin diantaranya Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan dan Thalhah bin Ubaidillah. Saat itu diusulkan agar Abu Bakar menyampaikan niatnya kepada khalayak ramai.

Kisah Umar bin Khattab Menjadi Khalifah Kedua Umat Islam

Usul itu disetujui oleh Abu Bakar, beliau menanyakan kepada khalayak ramai tentang keinginannya untuk mengangkat Umar sebagai penggantinya, hampir seluruhnya menyetujui, dan sedikit dari para sahabat tidak menyetujui dan Usman bin Affan menuliskan wasiat Abu Bakar ini. Akhirnya Umar-pun di bai'at setelah wafatnya Khalifah pertama Abu Bakar pada tahun 13 hijriah.

Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin.

Pemimpin yang menegakkan ketahuidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah.

Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang Al-Qur'an dan as Sunnah setelah Abu Bakar.

Kepemimpinan Umar bin Khatab tak seorangpuun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Pada masa kepemimpinannya kekuasan Islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah, Kairo.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium.

Dalam pertempuran Yarmuk (636 M), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641 M, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki.

Tahun 639 M, pasukan Islam menyerbu Mesir yang  juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik menjadi khalifah.

Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637 M, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641 M, seluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642 M), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia.

Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644 M, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas'ud berkata,

"Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka."

Mayoritas sahabat pun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 lmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti

  • menghimpun Al-Qur'an dalam bentuk mushaf, 
  • menetapkan tahun Hijriyah sebagia kalender umat Islam,
  • membentuk kas negara (Baitul Maal),
  • menyatukan orang-orang yang melakukan shalat sunah Tarawih dengan satu imam
  • menciptakan lembaga peradilan,
  • membentuk lembaga perkantoran,
  • membangun balai pengobatan,
  • membangun tempat penginapan,
  • memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan,
  • menetapkan hukuman cambuk bagi peminum khamr (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk,
  • mencetak mata uang dirham,
  • audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.


Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud dan wara'. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Dalam satu riwayat Qatadah berkata,

"Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang."

Abdullah, puteranya berkata,

"Umar bin Khattab berkata, 'Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka Umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah.

Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang. Beliau berjanji tidak akan makan minyak Samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya. Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan.

Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum'at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.

Baca juga: Silsilah Khalifah Umar bin Khattab

Demikianlah artikel tentang sejarah Umar bin Khattab menjadi Khalifah kedua umat Islam. Semoga bermanfaat bagi Anda. Sekian dan terimakasih.

Sumber: Rahmat B. 2013. Tarikh Islam 4. Pekanbaru: CV. PUSTAKA MAFATIH